Diberdayakan oleh Blogger.

Suara mu

Merdu suaramu pertanda
engkaulah sang penerus
tampil sebagai yang mengganti

indah susunan kata bahasa
merenungkan hening sanubari
engkaulah kini pemahat hari

kecemerlangan untuk peradaban
gejolak di sepanjang usia
tetap indahkanlah di pengusaian

Duri itu.,.,.
pedihnya iris isi hati
lalu tumbuhkan empati
lalu munculkan toleransi

duri itu menusuk
genangi dadamu dengan harapan
sikapmu undang keharuan
dan tiada lelah pandangi biru langit

mentari dan langit merah senja
temani ketabahanmu
akan berpamit di pelupuk yang berat

Duri itu
kini telah hilang
tapi tetaplah engkau simpan
apa yang dimunculkan oleh rasa perih

Pahamilah.,.,,.,
jika engkau mengetahui
sudilah kiranya mengerti

jika engkau mengerti
sedia hatilah memahami

jiwaku hendak menghampirimu
dengan kesederhanaan
karena aku tak tahu
isi hati dari setiap yang memandang

Perjalanan..,.,.,.
Perjalanan menuju kebaikan
perjalanannya saja hampir-hampir menyenangkan

ini bukan sengatan
melainkan gelitikan yang mentersenyumkan
bukan pula hentakan bentakan
tapi sentuhan penyentuh jiwa

tak ada caci-maki
hanya nyanyian burung-burung pagi
liku-berliku dakian terjal?
permadani merahlah yang terlihat

di anak tangga manakah ini?
perjalanannya saja hampir-hampir menyenangkan

SENJA DI PANTAI UTARA



Kepada senja aku mengadu
Menangisi kepergianmu dari
hidupku…
mengapa bahagia itu hanya sesaat
saja..
Laksana hujan yang terus
mencumbui bumi…
Laksana gerimis yang selalu
mendekap pagi..
Aku disini terpaku dalam diam..
Kepada senja aku mengadu..
Betapa pedih hatiku ini
Kau menghilang bak ditelan bumi..
Hanya goresan kecil yg menyayat
kalbu..
kau tancap dalam pilunya hatiku…
Bahwa kau tak bisa mencintaiku…
Kepada senja aku mengadu
Rindu ini menghujam jantungku
Bagai ombak besar yg
menghantam dadaku
Hingga aku tak bisa bernafas
karena desakan
rasa rindu yg sangat kuat…
Oh cinta mengapa taqdirnya begitu
kejam..
Kau berikan aku dia tp kau sekap
dia dalam kesunyian malam..
Kini aku hanya pasrah dalam diam
Hatiku telah membeku dimakan
waktu

SEMU



Bukan saja satu jam yang lalu
Sudah lama
Tubuhmu melenggang meninggalkanku sendiri
Bukan saja kemarin
Dirimu berkata ingin menyudahi hubungan kita
Telah lama

Detik detik waktu setiap saat menghujamku
Berbagai pertanyaan singgah dalam kalbu
Betapa aku betah dengan sepi ini
Aku sendiri tak tahu

Jemarimu yang dulu pernah bertaut dengan jemariku
Masih segar rasa itu
Tak pernah lupa
Semuanya masih aku rasakan
Walau entah dirimu ada dimana
Namun kenangan itu cukup menghadirkan sosokmu

Semu
Memanglah aku sadar
Nyatamu telah lenyap berbulan bulan yang lalu
Tapi yakinku sisa sisa getaran itu masih mengalun bertalu

Dalam sunyinya jiwa aku mengenangmu

PUISI TANPA JUDUL











GORESAN KATA SEMU

ku terpaku melihat keheningan malam.

Bagaimana bisa aku bertahan pada cinta yang tak pernah anggap ku ada?

Bagaimana bisa aku tetap mencoba yakin dan percaya bahwa itu kesejatian cinta?

Sedangkan dia yang ku sebut cinta itu, seperti udara.


Yaa, dia seperti udara.

Nyata, namun semu dipandang mata.

Hadirnya hanya bisa dirasa, tanpa bisa digenggam.


Aku tak mengerti akan hatiku.

Sudah jelas bahwa kau tak mungkin bisa ku miliki.

Namun mengapa aku selalu menanti, menanti hatimu.

Bisa menyambut hangat cintaku.


Aku malu.

Malu pada bulan yang tetap bercahaya.

Walau cahayanya terbawa angin malam.


Namun aku?

Aku hanya bisa menjadi saksi semua itu terjadi.

Kejadian yang mungkin boleh aku ucapkan dengan jujur,

Semua itu membuat hatiku terluka.

Namun siapa yang peduli? Kau? Atau mungkin dia?


Dia yang telah berhasil takhlukkan cintamu.

Apa dia peduli apa yang ku rasakan?

Sakit ini?

Ku rasa tidak.


Hanya pada malam tempatku curahkan segala apa yang ku rasa.

Hanya malam yang mengerti.

Karena kita sama.

Sama-sama bertahan dalam kegelapan yang semu, namun nyata.

SENDUKU

renggut lah aku dari klemahan ku,,
dngan ksombongan yg kau mahkotakn slalu,,
aku akn tetap mnundukan kpala, dngan tetesan air mata,,
tnpa gusar,
tanpa geming, hingga kau pergi mmbawa ambisi mu kmbali pulang.

tikam lh aku dari kpdihan ku,,
dngan kepal buas amarah mu, yg mndarah daging dalam jiwa mu,,
aku akan trdiam bisu mnhan rasa sakit dlam hati ku,,
tnpa erang,
tnpa jerit, wlau hingga jiwa ini trpisah dengan raga ku,,

dan  biarknlah aku kmbali pulang dengan tenang,
tnpa sesal mu,
tnpa tangis mu,
tnpa rindu mu,

slamat tinggal kasih,
izinkan aku me makam kan cinta ku pada mu di kelak aku brtempat layak di dalam syorga,,
biar brbatu nisan kn pnuh do'a,,
brsemi kn harum bribu putik bunga..

KENANGANKU


Derap langkah
tebaran debu mengikuti kaki
mengiringi sepanjang jalan
sudah gersangkah dunia ?

terik sengatan matahari
keringat bercucuran
basah seluruh badan
namun……
bibir kering

Ku hampiri sepotong kayu
duduk menatap langit
teringat wajah mu sayang
betapa perih hati ku

Ketika jiwa ku terbuai
engkau berlari
saat ku mengungkapkan cinta sejati ku
engkau menghindar dan menghilang

Namun ku kejar diri mu
hanya bayangan semu yg ku dapat

Biarkanlah………
aku menyendiri tanpa mu
walau hati ku hancur
saat ini aku pasrah

Cuma harapan ku suatu saat
ketika terbangun
engkau telah disisi ku
karena diri mu cinta sejati ku